Minggu, 04 November 2012

KRONIK SEMINARI YERUSALEM BARU (JUNI-AGUSTUS)


Salam jumpa para pencinta SINTER PAPUA mania di mana pun anda berada. Semoga semuanya masih dalam keadaan yang sehat walafiat dan selalu ada dalam lindungan Allah yang Maha kuasa.
Pada kemsempantan ini, Bung kronik kembali menyapa anda semua dalam suatu rangkaian cerita dan informasi yang tersususun rapih menjadi sebuah catatan peristiwa yang selama ini telah menghiasi dan mewarnai kisah perjalanan panggilan para frater di Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru.
Suka duka, canda tawa dan isak tangis selalu merupakan nostalgia yang indah yang mengisi setiap derap langkah para frater Semeinari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Bara sebagai calon imam di tanah Papua.
Oleh karena itu, untuk mengurangi rasa penasaran anda semua maka Bung kronik mengajak anda untuk meluangkan waktu untuk menyimak lembaran-lembaran kisah para frater ini yang telah dirangkaikan di bawah ini. Akhirnya Bung kronik mengucapkan selamat membaca.
3 Juni 2012
                “Teman-teman mobil su datang…mobil su datang…” teriak fr Okto Taena selaku ketua kesenian Seminari Tinggi Interdiosesan kepada anggota koor untuk segera bersiap-siap. Hari ini anggota koor gabungan (para fater, asrama putri Nurjaya, asrama putri santa Monika Waena dan Omk Perumnas) pergi ke Koya Timur untuk tanggung koor di gereja Sang Penabur Koya Timur. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi gladi resik bagi anggota koor menyambut tahbisan Diakon tanggal 9 juni di Semeinari Tinggi Yerusalem Baru. Pada kesempatan ini juga, Pater John Jehuru selaku pemimpin misa menerimakan sakramen komoni pertama kepada Niga dan Bita Cs. Sesudah perayaan Ekaristi, anggota koor diundang oleh keluarga Bapak Tomas untuk menghadiri syukuran atas sakramen komoni yang telah diterima oleh kedua anaknya Niga dan Bita. “Wan…nanti ada goyang ka trada?” Tanya fr Steko pada fr ibra, “ada ka trada yang penting makan sob”, jawab fr ibra. “Kamu semua sudah kenyang ka???Tanya Pater John kepada anggota koor, kita diundang lagi untuk menghadiri acara syukuran komoni pertama dari salah satu keluarga di Koya Barat, lanjutnya. “Aduh Pater….nanti isi makanan lagi di mana soalnya perut su tra bisa tampung lagi ne” sambung Yuly yang adalah mahasiswi STPK yang ikut saat itu. “Makan lagi…makan lagi…kata fr ibra setibanya di tempat acara”. Setelah itu, rombongan anggota koor menuju Pantai Holtekam untuk rekreasi bersama. Tepat pukul 16.00 sore meninggalkan pantai Holtekamp pulang kembali ke asrama masing-masing. Selamat tinggal koya,,,,
9 Juni 2012
“Hujan ko stop sudah ka…” Kata fr Lecet alias Lius Taena dengan gaya logat Papua. Hari ini ditahbiskan enam orang frater yakni; fr Linur Pr asal Keuskupan Asmat, fr Peter Pr, asal Keuskupan Monokwari Sorong, fr Paulus Lipi Osa, fr Hiron Ofm, fr Petrus Ofm dan fr menajadi Diakon. Walaupun hujan terus mengguyur bumi Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru tetapi tidak mematahkan semangat para frater dan undagan untuk menghadiri acara pentahbisan. Pada kesempan ini juga, para frater tingkat 4 dilantik menjadi akolit. Acara tahbisan dan pelantikan akolit ini dipimpin langsung oleh Mgr Aloysius Murwito OFM, Uskup Keuskupan Asmat didampingi P Neles Tebay Pr (Ketua sekolah STFT Fajar Timur), P John Jehuru Osa (Rektor Seminari Tingi Yerusalem Baru). Perayaan Ekaristi berlangsung meriah karena anggota koor bernyanyi dengan penuh semangat didukung oleh dirigennya fr Eman Billy dengan gayanya sambil “bergoyang”. Dalam khotbah, Uskup Alo mengatakan bahwa tugas seorang Diakon dan Akolit adalah mewartakan Injil, melayani altar yang kudus dan melayani orang miskin.  Sesudah perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan acara resepsi bersama tamu undangan dan ditutup dengan makan bersama. “Eits…tunggu dulu, acara selanjutnya adalah papi alias patah pingang yang dikordinir oleh fr Jimmy sebagai seksi acara.
10 Juni 2012
“Acara lagi…acara lagi…”kata fr Dhio pada fr Zake, “Wan… pokoknya ne malam katong harus kuasai arena” jawap fr  Zake. Pada hari ini, keluarga besar Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru mengadakan acara syukuran atas ke dua saudara (Fr Linus dan Fr Peter) yang telah ditahbiskan menjadi Diakon. Selamat e untuk kakak Diakon berdua, pergilah engkau diutus dan jadikanlah seluruh bangsa murid-Ku, “ungkap fr Jhon Seran kepada kedua Diakon yang sempat di dengar bung kronik”
11 Juni 2012
“We ne hari Seminari pung sepi sj…orang-orang dong ke mana semua e” Tanya fr andrio pada fr primus. “Bro ko tra tau ka? Ne hari kan stage jadi semua su jalan bro” jawab fr Primus. Hari ini para frater menjalankan kegiatan stage, frater tingkat I stage kemasyarakatan di sekitar abepura, kota raja dan waena, frater tingkat II stage kegerejaan di Paroki St Wilibrodis Arso, frater tinggkat III stage penelitian di Koya Timur dan Koya Barat dan tingkat IV menjalankan tahun orientasi pastoral di keuskupan masing-masing.
14 Juli 2012
Kegiatan stage berakhir. Para frater bergabung kembali di tempat tercinta Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Banyak pengalaman suka dan duka yang disharingkan satu sama lain. “Ai Kakz…saya punya badan turun drastis” Keluh fr Ufon pada Bung kronik yang pada saat stage ia mendapatkan tempat kerja di batu tela, “Woi…fr Ufon hanya itu sa juga, ko tra tau ka kita pung kakak frater Gusty da masuk RS Dian Harapan tu karena malaria plus 4, tau to selama stage kegerejaan di Arso tu dapat serang dari nyamuk trus jd” protes fr Beny. “Berarti kami yang stege penelitian di koya enak dong karena makan ikan mujair trus, selama kami di Koya tu ikan-ikan dong tra tidur tenang mimpi buruk terus”. Sambung fr France sambil tersenyum.
24 Juli 2012
Hari ini rombongan frater-frater baru dari Keuskupan Monokwari Sorong dibawah pimpinan fr Joko tiba di Seminari Tinggi Yerusalem Baru, untuk melanjutkan pendidikan sebagai calon imam di STFT Fajar Timur. “Selamat datang bro dan selamat bergabung di komunitas tercinta Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru”, kata Fr Martin.
25 Juli 2012
“Seminari 1’am coming,,,” itulah ucapan fr Anjelo saat menginjakkan kakinya di Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Hari ini frater-frater baru dari Keuskupan Timika Fr Anjelo Cs tiba di Seminari Tinggi Yerusalem Baru.
1-3 Agustus 2012
Hari ini komonitas Seminari Tinggi Iinterdiosesan Yerusalem Baru, mengikuti ret-ret bersama di aula St. Yoseph Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Tema ret-ret yang direnungkan adalah SPIRITUALITAS HIDUP KOMONITAS MATI RAGA MERUPAKAN SUMBER DOA YANG SEJATI BAGI KESELAMATAN JIWA-JIWA.
6-11 Agustus 2012
Hari ini para frater baru Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru mengikuti Ospek (Orientasi Pendidikan) di kampus STFT Fajar Timur. “Ospek di STFT ni bagus e karena tidak siksa kita model ke di kampus lain” Ungkap fr Ruben pada kawan-kawannya. “Bro…ospek di STFT tu tujuannya untuk mendidik orang dengan baik dan mengenal kampus bukan untuk menyiksa orang”. Sambung Fr Scifo yang sempat mendengar perkataan dari fr Ruben dkk.
13 Agustus 2012
Hari ini para frater Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru bersama seluruh civitas akedemi STFT Fajar Timur, mengikuti pembukaan kuliah perdana tahun ajaran 2012-2013 di aula St. Yoseph Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Acara pembukaan kuliah perdana ini diberikan oleh Prof. Dr John Tondowidjojo, CM dengan tema: PASTORAL DAN KOMONIKASI.
14 Agustus 2012
Hari adalah hari pertama para mahasiswa STFT Fajar memulai kegiatan perkuliahan tahun ajaran baru 2012/2013. “Ai…kulia lagi…coba libur trus ka???”Kata Fr Yanto. “Sob (Sobat) lebih cepat lebih bagus lagi karena umat sangat membutuhkan kita”. Sambung fr Jiden.
16 Agustus 2012
Hari ini seluruh Civitas akademi STFT Fajar Timur mengikuti serah terima jabatan Ketua Sekolah STFT Fajar Timur di aula St. Yosep Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru. Bapak Drs Abdon Bisei M. Hum selaku Ketua Sekolah yang baru menggantikan P. Dr Neles Tebai. Akhirnya para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru mengucapkan proficiat dan selamat bertugas kepada Bapak Drs Abdon Bisei M. Hum dan terima kasih kepada P. Dr Neles Tebai Pr , atas pengabdiannya selama ini.
17 Agustus 2012
“Merdeka…merdeka…merdeka…” Teriak fr Tinus. Para Frater mengucapkan Dirgahayu untuk kemerdekaan nagara Indonesia yang ke-67.
19 Agustus 2012
“Bukan kamu yang mengutus Aku, tetapi Akulah yang Mengutus kamu”. Hari para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem baru mengikuti acara penthabisan Diakon di Paroki Sang Penebus Sentani. Mereka yang ditahbiskan menjadi Diakon  adalah Fr Yohanes Klau, Fr Yonanes Klau, Fr Imanuel James Kossay, Fr Carolus Boru. Keempat para frater ini ditahbiskan menjadi Diakon Keuskupan Jayapura dengan Uskup Penthabis Uskup Leo Laba Ladjar Ofm. Sebagai acara syukuran maka pada malamya dilanjutkan dengan resepsi bersama di Wisma Sto Maria Vianney Jayapura.
Akhirnya Bung kronik hanya bisa mengucapkan terimakasih dan semoga kita dapat bersua lagi di edisi mendatang. Sampai jumpa. Da,,,,,,,,,,!


Selasa, 11 September 2012

TUJUAN DAN PROSES PERKAWINAN SUKU IRARUTU

Perkawinan merupakan salah satu unsur hakiki dalam hidup bermasyarakat. Setiap suku memiliki tata cara perkawinan yang berbeda. Salah satu perkawinan yang dibahas disini adalah perkawinan suku Irarutu. Oleh karena itu, tujuan dan proses perkawinan suku Irarutu adalah sebagai berikut:
A.    Tujuan Perkawinan
Tujuan perkawinan adat suku Irarutu adalah sebagai berikut:
1.      Memperoleh keturunan (sebagai generasi penerus)
2.      Untuk mempersatukan kedua pribadi
3.      Melestarikan warisan adat
4.      Menambah jumlah dalam komonitas
B.     Proses Perkawinan
Proses perkawinan suku Irarutu dilakukan melalui beberapa tahap yakni:
1.      Masa Persiapan
Pada masa ini, hal-hal yang dipersiapkan itu tertuju pada proses peminangan, pertunangan, persiapan makanan dan maskawin
2.      Peminangan
Proses peminangan pada suku ini dilakukan melalui dua macam cara yakni, inisiatif dari orang tua dan inisiatif dari dua orang muda-mudi. Pada cara pertama dikatakan bahwa perkawinan itu ditentukan/diatur oleh orang tua. Contohnya: jika orang tua Si A mempunyai anak laki-laki dan orang tua Si B mempunyai seorang anak perempuan. Kedua orang tua tersebut akan memperhatikan mereka dalam pergaulan sehari-hari. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh kedua orang tua itu adalah kerajinan, ketangkasan, keberanian, tanggungjawab, mampu bekerja sendiri, mandiri, ketaatan, kekjujuran, suka menolong, tahu tentang batas-batas pergaulan, terbuka dan lain-lain. Apabila sifat-sifat ini dimiliki oleh kedua anak muda itu maka mereka dinyatakan telah dewasa. Dengan demikian muncul hasrat untuk saling menanyakan tetapi tidak secara langsung. Biasanya yang pertama melakukan pihak orang tua laki-laki melalui seorang perantara. Kata yang akan diungkapkan oleh perantara adalah “Kami sekarang memerlukan nokeng baru, dan nokeng baru tersebut hanya kami jumpai disini”. Permintaan tersebut tidak langsung dijawab tetapi harus diberikan kesempatan untuk melakukan penelitian pada anak gadisnya. Orang tua laki-laki pun demikian. Selanjutnya dalam pertemuan kedua hasil penelitian dibandingkan, jika terdapat kesamaan maka keduanya dinyatakan telah dewasa. Dalam pertemuan ini pula dibicarakan mengenai penerimaan dan penolakan terhadap peminangan itu. Peminangan akan diterima apabila terdapat kesamaan dan ditolak apabila tidak ada sifat-sifat yang sama. Selama proses peminangan kedua anak muda itu tidak mengetahuinya sama sekali. Mereka baru mengetahui peristiwa tersebut jika peminangan itu telah disetujui oleh kedua orang tua belah pihak. Tetapi apabila ditolak maka tidak perlu diberitahukan kepada mereka.
Cara yang kedua dalam proses peminangan dalam suku ini adalah inisiatif dari kedua muda mudi. Hal ini nampak dalam pergaulan sehari-hari mereka akan saling memperhatikan. Apabila timbul niat bahwa mereka saling mencintai, maka akan disampaikan pada orang tua untuk diteliti dan urusan selanjutnya. Keputusan oleh orang tua biasanya disetujui saja oleh anak-anak. Namun terkadang muncul tindakan-tindakan lain misalnya, karena saling mencintai mereka melakukan kawin lari ke kampung lain. Mereka akan kembali apabila mereka disetujui dan menetap bila tetap ditolak.
3.      Pertunangan (Wafen)
Tahap pertunangan ini terjadi setelah pengakuan persetujuan bersama yang telah dilakukan pada proses peminangan. Kedua orang tua bertemu untuk memutuskan lamanya masa pertunangan anak mereka. Jangka waktu yang ditentukan disebut nggun (berupa kulit belahan rotan yang dikikis halus serta diikat bersimpul untuk memudahkan cara penghitungan waktu yang telah ditentukan) misalnya, waktu pertunagan mereka 50 hari maka akan diikat 50 simpul dan setiap hari simpul demi simpul dilepaskan.
Pada pertemuan ini juga dibahas mengenai penentuan barang-barang yang akan menjadi tanggungan masing-masing pihak yaitu, berupa persiapan sebuah rumah pesta, makanan pesta dan maskawin (untuk pihak laki-laki) dan persiapan nokeng, busur panah dan makanan untuk pesta (pihak wanita).
Adapun peraturan-peraturan yang harus ditaati selama pertunangan adalah tidak boleh saling bertemu bahkan saling memandang, laki-laki harus menyebut nama calon istri dihadapan orang lain omutre (rahasiaku) dan dihadapan istri oamutre (rahasiamu), sedangkan perempuan menyebut calon suami dihadapan orang lain omatu (temanku) dan dihadapannya omata (temanmu), selain itu juga, kepala dan buah dada gadis harus ditutup dan dibuka pada saat anak pertama lahir.
4.      Persiapan Makanan
Pada tahap ini mulai dilakukan persiapan makanan untuk pesta yang ditanggung secara bersama tetapi pihak laki-laki menanggung lebih banyak. Makanan yang dikumpulkan adalah sagu, keladi, ubi kayu, petatas, daging dan ikan. Sealain itu, orang tua laki-laki akan berjalan ke kampung lainnya untuk mengumpulkan maskawin dari family-family.
5.      Upacara Perkawinan
Pada tahap ini upacara perkawinan akan dilangsungkan pada siang hari agar semua orang dapat menyaksikannya. Pada pagi hari gadis diapit besama orang tua dan keluarga dan ditangan gadis ada satu gulungan rokok dan api dari kulit kaya genemo (ujerit). Mereka menantikan calon suami. Ketika calon suami tiba mereka akan dipertemukan secara resmi. Rokok yang dipenggang tadi dibakar dan diserahkan pada suami untuk dihisap sekali kemudian diedarkan pada kawan-kawan dan family. Dengan penghisapan rokok tersebut bahwa gadis itu telah diterima secara resmi pada kalangan mereka dan perkawinan itu adalah perkawinan yang sah.
6.      Maskawin
Upacara perkawinan yang sah itu diakhiri dengan pembagian maskawin. Maskawin itu dibedakan atas dua bagian yakni, maskawin siang hari dan maskawin malam hari. Maskawin siang hari yang dimaksudkan sebagai pembayaran dan pengikat perkawinan yang sekarang dilangsungkan dan dibagi pada family-family wanita yang membantu orang tua wanita. Sedangkan maskawin malam hari adalah maskawin yang diberikan pada malam hari pada orang tua wanita sebagai pembayaran atas jerih payah dalam membesarkan anak gadisnya.
Sumber: Dominikus Damianus R Surinde, Beberapa Catatan Tentang Sistem Perkawinan Suku Irarutu, Jayapura: STFT Fajar Timur, 1974. Hal 18-29

Jumat, 03 Agustus 2012

KEUSKUPAN AGUNG MERAUKE (KAME)


Oleh: Frater-frater KAME, angkatan 2009

Uskup      : Mgr. Nicolaus Adi Saputra, MSC.
Motto       : Pasce Ovis Meas (Gembalakanlah Domba-Ku)
Sejarah:
Merupakan tempat misi masuk pertama di tanah Papua pada 1905.
Berdiri menjadi Keuskupan pada: 15 November 1966
Sebelumnya merupakan Vikariat Apostolik hingga 24 Juni 1950.
Sudah mengalami tiga kali pergantian Uskup:
-          Tillemans, MSC (1950-1972)
-          Jakobus Duivenvorde, MSC (1972-2004)
-          Nicolaus Adi Saputra, MSC (2004-Sekarang)

Visi:
“Persekutuan umat Allah yang majemuk, dipimpin oleh Uskup Agung, dalam kesatuan dengan Gereja Universal yang beriman pada Yesus Kristus, setia pada Kitab Suci dan tradisi Gereja serta berakar pada budaya setempat yang terus menerus membaharui dan memberdayakan diri serta berpartisipasi menuju kemandirian dan demi peningkatan kualitas dan kesejahteraan umat dan masyarakat dalam wilayah KAME”

Misi:
1.      Membaharui hidup persekutuan umat Allah yang saling percaya, terbuka, menghargai kerja sama dan rela berkorban atas dasar cinta kasih.
2.      Menciptakan dan membangun relasi interpersonal yang harmonis antara uskup, imam dan umat dan lembaga-lembaga keuskupan.
3.      Mengembangkan dan memperkokoh tata kepengurusan dan manejemen dalam lembaga-lembaga keuskupan.
4.      Menjawab kebutuhan umat, khususnya kelompok marginal dengan membuat dan melaksanakan upaya-upaya untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan umat serta mengembangkan budaya setempat.
5.      Membangun kerja sama dengan pemerintah, lembaga agama dan pihak-pihak lain serta menyuarakan hak-hak dasar dan nilai kemanusiaan.

I.          Luas Wilayah
Wilayah KAME  melingkupi tiga Kabupaten yakni Merauke (45.071 km2), Mappi (23.824 km2) dan Boven Digoel (27.128 km2). Dengan demikian dapat dipastikan bahwa luas Wilayah Keuskupan Agung Merauke adalah 95.913 km2.

II.       Jumlah Umat Saat Ini
Seperti telah diketahui bahwa wilayah KAME  melingkupi tiga Kabupaten yakni Merauke, Mappi dan Boven Digoel. Kab. Merauke memiliki jumlah penduduk sebesar 175.389 jiwa (data 2007), Kab. Mappi berjumlah penduduk 72.998 jiwa (data 2005) serta Kab. Boven Digoel yang memiliki penduduk sebesar 40.652 jiwa (data 2005). Dengan data ini, dapat diketahui bahwa masyarakat di daerah KAME berjumlah 289.039 jiwa. Namun demikian, jumlah masyarakat ini diambil dari data yang berbeda tahunnya. Yang pastinya ialah penduduk dari tahun ke tahun mengalami berbagai perubahan, khususnya peningkatan.
Dalam data tahun 2009, jumlah umat dalam wilayah KAME berjumlah 151.850 jiwa.[1] Namun menurut data dari KOMKAT per tahun 2010, jumlah umat saat ini ± 300.000 jiwa[2] dan terbagi dalam empat (4) Dekenat, dua (2) Kevikepan dan 29 Paroki dengan pembagian sebagai berikut:
a.       Dekenat Merauke (St. Fransiskus Xaverius-Katedral, St. Yosef-Bampel, St. Maria Fatima-Kelapa Lima, Sang Penebus-Kampung Baru dan St. Theresia-Buti).
b.      Dekenat Maro Atas (St. Theresia-Muting, Pelindung Rasul-Rasul-Bupul, Erambu dan St. Petrus-Paulus-Erom).
c.       Dekenat Kimmam (Kristus Raja-Kimaam Kota, Wanam, St. Lukas-Bamol dan St. Isidorus-Batu Merah).
d.      Dekenat Wendu (Bunda Hati Kudus-Wendu, Rasul-Rasul-Kuper, St. Petrus dan Paulus-Kumbe dan St. Antonius-Okaba)
e.       Dua Kevikepan yakni:
-          Kevikepan Mappi (Kristus Raja-Keppi, St. Kristoforus-Mur, St. Antonius-Bade, St. Yosef-Aboge, Gembala Yang Baik-Wanggete dan St. Wilhemus-Arare).
-          Kevikepan Mindiptana (Kristus Raja-Mindiptana, Hati Kudus-Tanah Merah, St. Fransiskus Xaverius-Asiki, St. Matias-Gitentiri, Kristus Bangkit-Wakereob, Sakramen Maha Kudus-Waropko dan Hati Kudus Yesus-Mokbiran).

II. Jumlah Tenaga
Di wilayah KAME, terdapat tenaga imam, biarawan/i dan petugas pastoral. Mereka ini menyebar di seluruh wilyah KAME. Adapun perinciannya sebagai berikut:
a.       Imam:
Projo: 18 Imam, tiga imam kontrakan dan tiga imam adalah Putra daerah.
Tarekat Klerikal dan Religius: MSC berjumlah 21 orang (3 putra daerah), Imam SVD 1 orang  serta OFM 1 orang.
b.      Tarekat Laikal (suster): PBHK (30 orang), PRR (20 orang), KSFL (7 orang), Alma (7 orang), TMM (3 orang), KYM (2 orang). (bruder): MTB (4 orang), MSC (1 orang), Gembala Baik (1 orang), OFM (1 orang).
c.       Frater-frater diosesan: 51 orang (41 sedang kuliah di STFT Fajar Timur-Jayapura, 7 orang sedang berada di lapangan dan 3 orang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Rohani).
      Sedangkan Frater Biarawan: 4 frater MSC dan 3 frater SVD.
d.      Petugas Gereja berjumlah 10 orang dengan pembagian: 7 orang di KAME, 2 orang di Kevikepan Kepi, 1 orang di Kevikepan Mindiptana.
III. Bidang Pelayanan
Untuk memperlancar bidang pelayanan publik, maka dibentuklah komisi-komisi. Komisi-komisi ini dibentuk dengan tujuan agar dapat menangani berbagai kesulitan serta memperlancar program-program yang dicetuskan oleh keuskupan. Bidang-bidang pelayanan yang ada itu antara lain: pendidikan, liturgi, pengembangan sosial-ekonomi, kateketik, kepemudaan, komunikasi sosial, kesehatan, kerasulan awam serta keadilan dan perdamaian.
Adapun beberapa usaha yang sangat menjadi prioritas adalah sebagai berikut:
1.      Pendidikan[3]
Dalam sejarah pendidikan di KAME, terdapat beberapa tahap perubahan system pendidikan. Periode-periode pendidikan itu adalah:
-          Perkenalan Injil dan peradaban (1905-1920)
-          Pembukaan Sarana Pendidikan (1921-1983)
-          Pendidikan yang menggunakan Kurikulum (1984-sekarang)
Pada 22 Agustus 1974 YPPK sebagai badan pendidikan Gereja didirikan di Jayapura. YPPK di Merauke didirikan dan mendapat persetujuan hukum pada 23 Mei 2002. Daerah yang merupakan wilayah pelayanannya adalah Kab. Merauke, Kab. Mappi serta Kab. Boven Digoel. Hingga saat ini, lembaga pendidikan di KAME dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- TK sebanyak 16 buah
- SD sebanyak 135 buah
- SMP sebanyak 8 buah
- SMA sebanyak 3 buah
- Perguruan Tinggi sebanyak 2 buah
Adapun tenaga pengajar yang ada adalah guru swasta yang dibiayai oleh Keuskupan serta para pegawai negeri yang ditempatkan di sekolah-sekolah katolik. Selain itu, upaya yang selalu digiatkan saat ini ialah penggiatan program 3 M (membaca, menulis dan menghitung).
Kendala yang dihadapi dalam bidang pendidikan ialah minimnya tenaga guru. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan tenaga guru yang adalah pegawai negeri yang hanya lebih mementingkan gaji daripada pengabdian untuk mengajar. Selain itu, pendidikan juga terganggu akibat banyaknya anak yang putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh sikap orang tua dan situasi lingkungan.[4]

2.      Kesehatan[5]
Menurut Komisi Kesehatan KAME, bidang pelayanan menjadi prioritas utama. Untuk itu, berbagai kegiatan berusaha untuk digencarkan. Salah satu kegiatan yang dilakukan ialah pelayanan kesehatan dalam bentuk pengobatan masal serta penyuluhan kesehatan
Kendala yang dihadapi dalam pelayanan di bidang kesehatan antara lain: berebaknya penyakit yang rawan dan perlu ditangani secara serius yakni: malaria, ISPA, hipertensi, asam urat, diare, asma dan TBC. Selain itu, ketersediaan air bersih juga menjadi suatu kendala.[6]

3.      Ekonomi
Dari segi perekonomian, umumnya sudah membaik. Kebutuhan masyarakat kebanyakan diperoleh langsung dari alam. Hanya ada beberapa kebutuhan yang harus dibeli karena tidak dapat diproduksi sendiri. Namun demikian, mungkin permasalahan akan datang di tahun-tahun mendatang. Hal ini diakibatkan oleh alam yang mulai dijadikan daerah perumahan dan perekonomian.

III.    Permasalahan Gereja/Umat Saat Ini

A.    Akses Tansportasi
Akibat konstruksi tanah dalam wilayah KAME yang tidak terlalu baik, maka pada musim-musim tertentu transportasi tidak bisa berjalan dengan baik bahkan tidak bisa jalan sama sekali. Pada musim hujan jalanan berada dalam kondisi rusak parah, berlumpur dan berlubang. Untuk jalur laut, transportasi juga ditentukan oleh alam. Hal ini disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu.
B.     Sosial Budaya
Di seluruh Papua terdapat 250 suku bangsa yang memiliki tradisi, sistem dan aturan adat serta bahasanya masing-masing. Kabupaten Merauke didominasi oleh suku besar Marind Anim dengan beberapa sub-etnis gabungan lainnya seperti Yeinan, Kima Khima, Kanume, Marori dan Menggey. Kab. Mappi memiliki tiga suku besar yang dominan yakni: Auwyu, Yaghai dan Wiyaghar/Tamario. Di Kab. Boven Digoel, berdiam beberapa suku besar yakni Auwyu, Muyu dan Mandobo.
C.     Akses Pelayanan Pendidikan
Dalam masalah pendidikan, ada beberapa hal yang menjadi pokok perhatian yakni: pendidikan pada umumnya sudah gratis namun orang tua masih membeli seragam sekolah untuk anak-anaknya. Selain itu, tidak adanya sosialisasi tentang dana BOS dan BOP. Akibatnya, orang tua tidak mengetahui adanya dana tersebut. Persoalan yang sering muncul juga adalah kekurangprofesionalan guru dalam mengajar.
D.    Akses Pelayanan Kesehatan
Ada beberapa kendala yang dihadapi dalam bidang kesehatan seperti: kekurangan air bersih. Selain itu terdapat berbagai penyakit yang banyak diderita oleh warga setempat (lih. Pembahasan mengenai kesehatan). Hal lain yang dihadapi ialah menyangkut jaminan kesehatan masyarakat (JAMKESMAS). JAMKESMAS belum merata di semua kampung, walaupun pelayanan PUSKESMAS/PUSTU sudah gratis.
E.     Ekonomi
Masalah yang menghambat kemajuan perekonomian adalah sebagai berikut:
-          Pemanfaatan lahan pekarangan yang belum optimal
-          Belanja rumah tangga yang lebih besar daripada pendapatan. Penduduk yang lebih dekat ke kota cenderung lebih konsumtif.
-          Hasil alam warga tidak stabil serta kalah bersaing dengan pedagang dari daerah lain di Pasar Merauke.
F.      Keamanan
Permasalahan juga muncul dalam bidang keamanan. Beberapa hal yang menjadi perhatian serius Gereja adalah:
-          Keterbatasan ruang gerak atau pengawasan yang ketat oleh pos-pos militer yang ada, khususnya di perbatasan (kampung Sota)
-          Peredaran dan penyalahgunaan miras yang semakin meluas
-          Kekerasan dalam rumah tangga
G.    Politik
Dalam bidang politik, terdapat beberapa masalah yang berhasil diteliti oleh SKP KAME seperti:
-          Pemerintahan kampung tidak berfungsi dengan baik
-          Ada kampung-kampung tertentu yang menjadi “anak tiri” dalam pembangunan (kampung Ndalir).


       [1]Buku Petunjuk Gereja Katolik Indonesia 2009.
       [2]Ibu Ance Tepu (anggota KOMKAT KAME) dalam penjelasan saat masa orientasi pada 15 Desember 2010.
       [3]P. Hengky MSC (Ketua YPPK KAME) dalam penjelasan saat masa orientasi pada 13 Desember 2010.
       [4]Data SKP KAME 2010
       [5]Sr. Alberta PBHK (Ketua Komisi Kesehatan KAME) dalam penjelasan saat masa orientasi pada 14 Desember 2010.
       [6]Data SKP KAME 2010.